<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="weebly" -->
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[Jurnal Harian-ku - Renunganku]]></title><link><![CDATA[http://pormadi.weebly.com/renunganku.html]]></link><description><![CDATA[Renunganku]]></description><pubDate>Fri, 08 May 2009 17:45:57 +0700</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Negara yang Didasari Ketakutan, Tidak Tinggi Nilainya]]></title><link><![CDATA[http://pormadi.weebly.com/2/post/2008/06/first-post.html]]></link><comments><![CDATA[http://pormadi.weebly.com/2/post/2008/06/first-post.html#comments]]></comments><pubDate>Sun, 29 Jun 2008 07:13:44 +0700</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://pormadi.weebly.com/2/post/2008/06/first-post.html</guid><description><![CDATA[Zainal Abidin Bagir,Ph.D (42), Direktur Eksekutif Center for Religious&nbsp; and Cross-Cultural Studies, prog. Pascasarjana UGM Yogya berkata, "Ketakutan muncul dari ketidaktahuan. Agama yang didasariketakutan nilainya tidak tinggi. kalau mau berani kita harus punya banyak pengetahuan, diantaranya, mesti mengenal banyak orang dengansegala kompleksitasnya secara lebih baik" (Kompas).  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<p  style=" text-align: left; "><FONT style="FONT-SIZE: 11pt; LINE-HEIGHT: 115%; FONT-FAMILY: " ?>Zainal Abidin Bagir,Ph.D (42), Direktur Eksekutif Center for Religious&nbsp; and Cross-Cultural Studies, prog. Pascasarjana UGM Yogya berkata, "Ketakutan muncul dari ketidaktahuan. Agama yang didasari<br />ketakutan nilainya tidak tinggi. kalau mau berani kita harus punya banyak pengetahuan, diantaranya, mesti mengenal banyak orang dengan<br />segala kompleksitasnya secara lebih baik" (Kompas). </FONT><br /><br /> <FONT style="FONT-SIZE: 11pt; LINE-HEIGHT: 115%; FONT-FAMILY: " ?>Pendapat Zainal Abidin Bagir tersebut sangat relevan dengan keadaan dimana masih banyak pemimpin agama yang menakuti-nakuti umatnya dalam berdakwah. Pendekatan agama dengan cara menakut-nakuti pemeluknya akan akhirat sudah tidak jamannya lagi, tidak relevan lagi. Pendekatan demikian tidak mendalam dan membatin alias dangkal.<br /><br /><SPAN style="FONT-SIZE: 11pt; LINE-HEIGHT: 115%; FONT-FAMILY: '" mce_style='font-size:11pt;line-height:115%;font-family:"'>Untuk itu perlu pengetahuan yang diantaranya diberikan oleh cara berpikir filsafat. Cara berfilsafat adalah cara memertanyakan kebenaran segala hal yang dibahas dalam agama itu. Bertanya, berefleksi tentang isi Kitab Suci mendorng setiap orang menyadari eksistensinya di hadapan the Supreme Being. Pada akhirnya kita akan sampai pada kekaguman akan keagungan kasih Tuhan pada kita dan membuat kita semakin bijaksana dalam hidup, bukannya takut akan Tuhan.</SPAN></FONT><br /><br /></p>]]></content:encoded></item></channel></rss>
